Friday, April 3, 2009

Imaji

Aku berlari dan berputar. Berputar dan berputar. Berharap seluruh dunia berputar bersamaku. Mengikutiku. Tapi mereka diam. Tak bergeming. Aku kembali berputar dan berputar lebih kencang, abaikan rasa pusing yang mulai menyergap. Tapi mereka tetap diam. Tak peduli berapa kalipun aku berputar, dimanapun aku berputar.

Aku mulai berteriak, berteriak sembari berputar. Berharap teriakanku mampu menggetarkan mereka turut berputar bersamaku. Namun, mereka tetap diam.

Tentu saja mereka tetap dim. Untuk apa memusingkan seseorang yang sibuk memutar diri tanpa sebab dan tujuan. Ia yang tak bermakna. Ia yang bukan siapa-siapa. Ia bukan pejabat pemerintahan, bukan tokoh masyarakat. Bukan selebriti atau bintang olah raga. Bukan pemenang kejuaraan, bukan pembawa perubahan. Bukan siapa-siapa.

Ia hanya seorang aku yang berputar dan berputar, tanpa sebab dan tujuan. Hanya ingin memecahkan kepala dan meleburkan hati. Mengamburkan segala isi dan kembali ke titik nol.
Niat awal berubah jadi imaji, ketika putaran tak lagi memusingkan, ketika teriakan tak lagi memekakkan. Yang tersisa hanyalah hening. Dan imaji. Kini segalanya dapat kulihat dalam tenang. Seperti menonton televisi. Mulanya berwarna, perlahan berubah jadi hitam putih. Tapi lebih nikmat begii. Hitam putih. Tak ada abu-abu. Biar saja ruang ini penuh dengan kotak penghasil titik-titik cahaya pembentuk gambar itu. Biar ia memenuhi ruang. Tak ada benda lain di sini. Benarkah? Ya, kotak televisi itupun hanya imaji, disusun dari ribuan titik hampa yang dipadatkan sehingga dapat diproyeksi retina. Tanpa suara. Namun, cukup menenangkan.
Satu persatu muncul refleksi bentuk. Mulanya saling menumpuk, lalu mulai memisahkan diri. Saling menyesusikan bentuk dan ukuran. Otomatis. Seperti program komputer yang tak pernah dapat kumengerti. Seperti menyusun foto secara otomatis dengan memanfaatkan menu yang ditawarkan picasa. Berderet-deret, sedikit menumpuk, menimbun yang tak berbentuk, menampilkan rekaman-rekaman terbaik.

Rekaman? Benarkah rekaman? Rekaman itu hasil merekam. Berarti ada objek dan ada alat merekam. Tak kutemukan objek itu. Ada dimana mereka? Lalu, dimana alat perekamnya? Sepeti apa? Kamera foto kah? Kamera film? Bukan. Hasil kamera tidak seperti itu. Yang ini tanpa suara. Abstrak, namun sesekali membentuk sesuatu. Sesekali bergerak, sesekali diam tanpa maksud. Benarkah tanpa maksud? Ah, tak peduli.

Untuk apa berpikir? Ini bukan saatnya berpikir. Bukan saatnya mengingat penjelasan guru atau dosen. Bukan saatnya mengerjakan kuis atau ujian. Bukan waktunya berdiskusi. Bukan waktunya berkarya. Kini waktunya menikmati. Menikmati yang ada di sekeliling. Menikmati imaji yang berloncatan ke sana ke mari.

Jangan berpikir. Jangan bertanya. Nikmati saja. Biarkan hanyut dalam imaji dan kau pun jadi bagian dari imaji, bagian dari refleksi.

Lentur, tapi cukup padat untuk dibentuk. Berwarna, tapi juga kehilangan warna. Tetap indah karena imaji. Fleksibel, tak terbatas ruang dan waktu. Tak terbatas bentuk dan ukuran. Hanya imaji. Tanpa bentuk dan isi. Namun, dapat memenuhi ruang dalam sekejab, secepat mengosongkan ruang, tak peduli betapa sempit atau luasnya ruang. Karena aku hanyalah imaji.
Dalam imaji aku adalah si pembaharu. Dalam imaji, aka adalah yang terpenting. Semua menghormati pemikiran dan mendengarkan argumentasiku. Berani mendebat, tapi bukan eyel-eyelan. Mengasah rasa dan pengertian.

Dalam imaji aku hanyalah orang biasa yang dapat menghilang kapanpun kuinginkan. Dalam imaji aku adalah sama dengan mereka. Tertawa bersama, bergerak bersama, diam bersama. Dalam imaji aku unik sekaligus umum. Spesifik sekaligus general.

Semua hanya terjadi dalam imaji. Dunia tak perlu berputar bersamaku tuk ciptakan imaji. Hanya butuh sedikit waktu sendiri, mengisolir dirisekejap, dan berputar. Terus berputar. Dan inilah aku. Berputar-terur berputar, hanyut dalam imaji, tak hendak kembali dalam dunia di mana semua diatur dalam plot; jam sekian melakukan ini, jam sekian berlaku itu. Dalam imaji yang ada hanyalah aku yang kumau. Berlaku semauku.

Sayang, semua hanya dapat terjadi dalam imaji. Imaji yang menghidupkan sekaligus menenggelamkan. Selamat berimaji.



Sudirman, 02 April 2009 pk. 08.46
Di ruang kerjaku