Sunday, May 17, 2009

Mengalahkan atau Memperjuangkan Mimpi

Saya percaya tidak ada anak yang tidak pernah ditanya cita-citanya. Bahkan Ria Enes menuangkannya dalam lagu yang masih saya dengar sesekali. "Susan, Susan, Susan, besok gede mau jadi apa?" Setiap orang diajari membangun mimpinya sejak kanak-kanak. Mengapa? Saya tidak tahu persis kajian ilmiahnya. Yang saya tahu persis, mimpi itu memberi daya. Mimpi itulah yang menggerakkan seseorang melakukan sesuatu dan terus berjuang. Hidup tanpa mimpi sama saja mati.
Sayangnya, seiring berjalannya waktu, setiap orang "dipaksa" menggeser mimpinya.Atau bahkan mengubur dalam-dalam. Mimpi hanyalah mimpi. Terutama ketika mimpi pribadi bertabrakan dengan mimpi orang lain yang superior dalam hidup kita. Kita terpaksa mencecap pahitnya kehancuran mimpi. Pilihan lain adalah keluar dari pertabrakan mimpi dengan resiko kehilangan "mimpi" atau ideal yang lain.
Lantas, untuk apa kita diajari membangun mimpi. Saya hanya tahu satu hal: untuk terus hidup dan menghidupi kehidupan dengan lebih bermakna; bagi diri sendiri dan orang lain di sekitar. Untuk saling menyesuaikan dan membangun mimpi bersama, lalu menjalani mimpi itu bersama.
Kini saatnya memilih: mimpi mana yang akan dijalani.

Friday, April 3, 2009

Imaji

Aku berlari dan berputar. Berputar dan berputar. Berharap seluruh dunia berputar bersamaku. Mengikutiku. Tapi mereka diam. Tak bergeming. Aku kembali berputar dan berputar lebih kencang, abaikan rasa pusing yang mulai menyergap. Tapi mereka tetap diam. Tak peduli berapa kalipun aku berputar, dimanapun aku berputar.

Aku mulai berteriak, berteriak sembari berputar. Berharap teriakanku mampu menggetarkan mereka turut berputar bersamaku. Namun, mereka tetap diam.

Tentu saja mereka tetap dim. Untuk apa memusingkan seseorang yang sibuk memutar diri tanpa sebab dan tujuan. Ia yang tak bermakna. Ia yang bukan siapa-siapa. Ia bukan pejabat pemerintahan, bukan tokoh masyarakat. Bukan selebriti atau bintang olah raga. Bukan pemenang kejuaraan, bukan pembawa perubahan. Bukan siapa-siapa.

Ia hanya seorang aku yang berputar dan berputar, tanpa sebab dan tujuan. Hanya ingin memecahkan kepala dan meleburkan hati. Mengamburkan segala isi dan kembali ke titik nol.
Niat awal berubah jadi imaji, ketika putaran tak lagi memusingkan, ketika teriakan tak lagi memekakkan. Yang tersisa hanyalah hening. Dan imaji. Kini segalanya dapat kulihat dalam tenang. Seperti menonton televisi. Mulanya berwarna, perlahan berubah jadi hitam putih. Tapi lebih nikmat begii. Hitam putih. Tak ada abu-abu. Biar saja ruang ini penuh dengan kotak penghasil titik-titik cahaya pembentuk gambar itu. Biar ia memenuhi ruang. Tak ada benda lain di sini. Benarkah? Ya, kotak televisi itupun hanya imaji, disusun dari ribuan titik hampa yang dipadatkan sehingga dapat diproyeksi retina. Tanpa suara. Namun, cukup menenangkan.
Satu persatu muncul refleksi bentuk. Mulanya saling menumpuk, lalu mulai memisahkan diri. Saling menyesusikan bentuk dan ukuran. Otomatis. Seperti program komputer yang tak pernah dapat kumengerti. Seperti menyusun foto secara otomatis dengan memanfaatkan menu yang ditawarkan picasa. Berderet-deret, sedikit menumpuk, menimbun yang tak berbentuk, menampilkan rekaman-rekaman terbaik.

Rekaman? Benarkah rekaman? Rekaman itu hasil merekam. Berarti ada objek dan ada alat merekam. Tak kutemukan objek itu. Ada dimana mereka? Lalu, dimana alat perekamnya? Sepeti apa? Kamera foto kah? Kamera film? Bukan. Hasil kamera tidak seperti itu. Yang ini tanpa suara. Abstrak, namun sesekali membentuk sesuatu. Sesekali bergerak, sesekali diam tanpa maksud. Benarkah tanpa maksud? Ah, tak peduli.

Untuk apa berpikir? Ini bukan saatnya berpikir. Bukan saatnya mengingat penjelasan guru atau dosen. Bukan saatnya mengerjakan kuis atau ujian. Bukan waktunya berdiskusi. Bukan waktunya berkarya. Kini waktunya menikmati. Menikmati yang ada di sekeliling. Menikmati imaji yang berloncatan ke sana ke mari.

Jangan berpikir. Jangan bertanya. Nikmati saja. Biarkan hanyut dalam imaji dan kau pun jadi bagian dari imaji, bagian dari refleksi.

Lentur, tapi cukup padat untuk dibentuk. Berwarna, tapi juga kehilangan warna. Tetap indah karena imaji. Fleksibel, tak terbatas ruang dan waktu. Tak terbatas bentuk dan ukuran. Hanya imaji. Tanpa bentuk dan isi. Namun, dapat memenuhi ruang dalam sekejab, secepat mengosongkan ruang, tak peduli betapa sempit atau luasnya ruang. Karena aku hanyalah imaji.
Dalam imaji aku adalah si pembaharu. Dalam imaji, aka adalah yang terpenting. Semua menghormati pemikiran dan mendengarkan argumentasiku. Berani mendebat, tapi bukan eyel-eyelan. Mengasah rasa dan pengertian.

Dalam imaji aku hanyalah orang biasa yang dapat menghilang kapanpun kuinginkan. Dalam imaji aku adalah sama dengan mereka. Tertawa bersama, bergerak bersama, diam bersama. Dalam imaji aku unik sekaligus umum. Spesifik sekaligus general.

Semua hanya terjadi dalam imaji. Dunia tak perlu berputar bersamaku tuk ciptakan imaji. Hanya butuh sedikit waktu sendiri, mengisolir dirisekejap, dan berputar. Terus berputar. Dan inilah aku. Berputar-terur berputar, hanyut dalam imaji, tak hendak kembali dalam dunia di mana semua diatur dalam plot; jam sekian melakukan ini, jam sekian berlaku itu. Dalam imaji yang ada hanyalah aku yang kumau. Berlaku semauku.

Sayang, semua hanya dapat terjadi dalam imaji. Imaji yang menghidupkan sekaligus menenggelamkan. Selamat berimaji.



Sudirman, 02 April 2009 pk. 08.46
Di ruang kerjaku

Sunday, December 28, 2008

Reuni Ketiga

Tiga tahun yang lalu saya tertawa sinis ketika perkuliahan membahas teori konformitas. Ada sedikit rasa jijik terselip dan tekad membuktikan diri bahwa konformitas itu dapat saya minimalisir dalam hidup keseharian saya. Namun, yang terjadi pada akhir pekan lalu memaksa saya mengakui kebenaran teori itu sebenar-benarnya.
Pada dasarnya setiap orang membutuhkan rasa ”sama dengan lingkungan” atau merasa menjadi bagian dari suatu komunitas, apapun jenisnya. Berada di suatu komunitas dan diterima sebagai bagian dari komunitas membuat individu merasa dihargai, merasa memiliki daya yang lebih untuk melakukan sesuatu. Sebaliknya, penolakan dari lingkungan sekitar membuat individu merasa aneh, berbeda, dikucilkan, dan akhirnya kehilangan kemampuan berkarya.
Penerimaan yang saya rasakan ketika hadir seorang diri di acara komunitas kami semasa sekolah mampu membuat saya merasa begitu berharga. Tampaknya semua kesalahan selama proses pembelajaran tentang hidup yang kami alami semasa sekolah dulu tak lagi menjadi masalah. Proses lanjutan yang kami lalui memampukan kami (terutama saya) menertawai masa suram ketika itu. Kebersamaan singkat petang itu membuahkan kesadaran dan energi baru yang semoga saja bukan hanya saya yang mengalaminya.

Thursday, December 11, 2008

Sudah hampir dua bulan aku mencicip profesi M&PR. Menyenangkan, menantang, sedikit mengerikan. Masih membuatku kerap kikuk dan manja. Minta ditemani senior, enggan maju sendiri. Satu kebimbangan, inikah dunia yang ingin kugeluti?
Para senior kerap berbaik hati berbagi pengalaman dan tips seputar dunia kerja. Beberapa kali mereka berkata, masa mencicipi suatu profesi terbatas waktu dua tahun. Selebihnya akan sulit berpindah lahan. Hanya saja, untuk menentukan lahan yang tepat butuh kompromi hati. Itu yang belum kutemukan caranya. Mungkin ini eforia sesaat. Harus cepat memutuskan.

Tertular...

Pagi ini rekan saya memasuki ruang kerja kami membawa aura yang berbeda. Senyumnya tak lepas dan wajahnya sumringah. Bahagia. Gerakkannya lincah, mengingatkanku pada anak seorang teman yang entah mengapa tiba-tiba lekat padaku seakhir pekan kemarin. Penuh energi, meluap-luap, mendesak disebarkan.
Sederhana, tapi mampu mengisi ulang energiku yang mulai kendor. Sesekali mengeluh dan kembali tersenyum melihat polahnya. Ah, ia yang sedang menguasai dunia dengan cintanya...

Tuesday, May 6, 2008

In Memoriam

Aroma dupa masih tercium dari rambutku. Aroma yang melekat siang tadi di perkuburan rupanya enggan melepaskanku begitu saja. Padahal aku tak pernah menyukainya. Selalu saja kukuatkan hati menahan napas ketika ada dupa dibakar di sekitarku. Langkah selalu kupercepat ketika melewati rumah peramal nasib yang hanya berjarak dua blok dari rumahku. Sengaja kumencari tempat agak jauh dari altar saat perayaan ekaristi agung, sekadar menjauhkan diri dari hembusan angina yang membawa aroma dupa merasuk rongga hidung. Bahkan aku selalu menolak menemani nenek buyut berdoa ketika kami masih tinggal bersama lebih dari dua puluh tahun yang lalu. Aku hanya tidak ingin menghirup asap dupa yang tak pernah terlupa diayunkan nenek buyut sembari berdoa.
Namun, aku sering meminjam dupa itu sebelum dibakar dan meniru nenek buyut mengayun-ayunkannya di depan altar kecil di rumah kami. Menyenangkan rasanya mengayun-ayunkan batangan dupa merah itu. Lebih menyenangkan lagi, setelah puas mengayun, selalu ada paman yang siap menggendongku lantaran altar dan tempat menancapkan dupa batangan itu terlampau tinggi. Kala itu usiaku belum genap lima tahun. Begitu paman menyalakan dupa yang kutancap tadi, tanpa dikomando aku melarikan diri sejauh mungkin. Biasanya ke pekarangan, lantas mengajak anjing mengejar ayam-ayam kate peliharaan kami. Bocah.
Tahun-tahun berlalu. Tidak ada lagi dupa batangan merah yang tertancap menyala di altar itu. Nenek buyut telah berpulang dan tak ada yang meneruskan ritual tersebut, meskipun sekurang-kurangnya lima kali setahun keluargaku dan ribuan umat lain terpaksa menghirup aroma serupa dari dupa bakaran yang dipersembahkan dalam perrayaan ekaristi agung. Simbolis saja. Asap dupa yang mengangkasa diasosiasikan dengan lantunan doa-doa yang dipanjatkan, diharap sampai juga kepada Sang Maha. Tapi, tetap saja, aku tak menyukai aromanya.
Kali ini aku terlalu malas untuk membasuh rambut, mengganti aroma dupa dengan harum mint shampoo yang kusuka. Perjalanan pulang satu jam tadi terasa seabad. Rasanya tenagaku tercecer di setiap bongkah kerikil beraspal yang kulewati. Bongkah-bongkah kerikil yang memisahkanku dari peristirahatan kekal seorang teman.
Baru beberapa minggu yang lalu aku masih duduk bersamanya mengelilingi meja yang sama, membahas hasil kerja bersama dalam rapat rutin triwulan kami. Baru sebulan yang lalu aku berkumpul bersama teman-teman sepermainan di rumahnya yang kami jadikan markas. Ketiga anak lelakinya tentu bergabung bersama, bahkan si sulung itulah kepala regu kami.
Masih sulit kupercaya bahwa baru saja kami menyaksikan raganya disimpan rapi dibalik bongkahan tanah merah bertabur bunga. Belum ada satu minggu sejak kuhadiri doa untuk ketenangan arwah seorang nenek dari teman. Sehari sesudahnya, sms teman lain kuterima. Informasi lain seputar duka cita. Seorang teman sekelas sewaktu SMP meninggal karena leukemia. Jadilah minggu ini kuiisi dengan berkeliling rumah duka dan pemakaman.
Letih yang menghinggapi badan membuatku bertahan dan segera terlelap ketika berhasil mengunci pintu rumah dan mencapai kamar tidurku. Aroma yang melekat di rambut tak mampu menunda ritual istirahat malamku. Hmm… kali ini aroma dupa membuka celah bagi rasa yang lain. Rasa rindu.


* * *


In memoriam Jeannet Ananda, Subianto Setio, & Leonardi Lintang

Tuesday, March 4, 2008

Salah Siapa?

(written @ July'07)

Di tengah kericuhan berbagai peristiwa musibah nasional, sudah hampir sebulan ini kekisruhan terjadi di tempat saya bekerja paruh waktu. Salah seorang diantara kami, sebut saja “A”, merasa kecewa terhadap seseorang pekerja lain. A merasa ia ditikam dari belakang oleh, sebut saja ”B” sampai empat kali. Entah apa permasalahannya. Beberapa tanggapan kemudian bermunculan. Ada yang merasa salut pada si A yang mampu tetap bersikap ramah pada B jika keduanya bertemu; meski menurut pengakuan A sikapnya itu hanyalah bentuk profesionalismenya dalam bekerja. Ada pula yang merasa heran dengan kekecewaan si A yang sudah menjurus pada dendam.

Saya pribadi sepakat dengan rekan yang mempertanyakan si A. Saat kita merasa disakiti oleh orang lain, belum tentu yang bersangkutan merasa telah berbuat salah pada kita. Jika itu yang terjadi, dan kita membiarkan orang itu tetap tidak mengetahui bahwa kita tersakiti oleh perkataan atau tindakannya, sampai kapanpun masalah tidak akan terselesaikan. Kita akan tetap sibuk dengan rasa sakit hati, sibuk merancang upaya balas dendam. Sementara dia melanjutkan hidup dengan tenang. Melihat ketenangannya itu kita akan semakin terpancing emosi. Akibatnya mudah ditebak. Sepintar apapun, seteguh apapun kita menjalankan profesionalisme kerja, suasana kerja tentu terpengaruh. Suasana kekeluargaan yang diidamkan dan diharapkan mampu meningkatkan profesionalisme dan kinerja kerja tentu tidak akan tercipta.

Lantas apa yang harus dilakukan. Lagi-lagi komunikasi yang menjadi andalan. Duduk tenang dan membicarakan semuanya baik-baik tampaknya merupakan awal dari jalan keluar yang baik. Bukan untuk mencari siapa yang salah atau menuntut permintaan maaf dari salah satu pihak. Namun, lebih pada pengungkapan perasaan, pikiran, mengkomunikasikannya hingga tercapai pengertian dan kesepahaman. Pengungkapan perasaan dan pemikiran itu sama pentingnya dengan komunikasi itu sendiri. Perasaan yang ditahan dan dipendam tak ubahnya bom waktu yang siap meledak kapan saja. Soal ini akan saya jabarkan lebih lanjut di lain kesempatan. Berangkat dari situlah alternatif pemecahan masalah dapat dicari bersama, penyelesaian yang mampu mengakomodir kepentingan semua pihak dan memulihkan hubungan baik yang pernah ada.

Bagaimana kita dapat menyelesaikan masalah atau mengobati sakit hati jika orang yang menyakiti kita tidak mengetahui bahwa kita tersakiti? Jika kita bersikeras memendam segalanya sendiri dan menolak untuk berkomunikasi, salah siapa jika kita semakin tersakiti sementara orang lain baik-baik saja?

Perlu disadari bahwa tidak semua orang memiliki kepekaan yang amat tinggi atau kemampuan membaca pikiran orang lain. Perlu keberanian dan kecermatan pula dalam memulai komunikasi. Perlu mencoba dan terus mencoba untuk membina komunikasi itu. Lantas, kapan kita akan memulainya?