Pada prinsipnya, menerima dan memberi (take and give) adalah tindakan yang timbal balik. Mulanya seseorang menerima sesuatu dalam kehidupannya. Ia menerima kehidupan dari keluarga dikala masih tak berdaya. Pemberian itu lantas dibagikan pada orang lain dan akan berbuah. Dengan memberi, ia pun menerima.
Prinsip inilah yang hendak diterapkan dalam konteks bekerja. Karyawan yang telah diberikan kesempatan bekerja oleh perusahaan hendaknya membalas pemberian itu dengan menampilkan kinerja maksimal. Kinerja yang maksimal itu kemudian akan dihargai pula oleh perusahaan berupa gaji yang pantas, penghargaan prestasi, promosi, dan berbagai bentuk penghargaan lainnya. Sebaliknya, jika karyawan tidak memberikan yang terbaik yang ada dalam dirinya, ia tidak bisa mengharapkan perusahaan akan memberikan balasan yang tinggi.
Dalam teorinya, Victor Vroom mengatakan, ”kekuatan dari suatu kecenderungan untuk bertindak dengan suatu cara tertentu bergantung pada kekuatan dari suatu pengharapan bahwa tindakan itu akan diikuti oleh suatu keluaran tertentu dan pada daya tarik dari keluaran tersebut bagi individu tersebut.”[1]. Teori harapan membantu menjelaskan mengapa banyak sekali pekerja tidak termotivasi pada pekerjaannya dan semata-mata melakukan yang minimum diperlukan untuk menyelamatkan diri.
Kunci untuk teori harapan adalah pemahaman tujuan-tujuan seorang individu dan keterkaitan antara upaya dan kinerja, antara kinerja dan gajaran, dan akhirnya antara ganjaran dan dipuaskannya tujuan individual. Teori harapan mengakui bahwa tidak ada asas yang universal untuk menjelaskan motivasi semua orang.
Teori harapan ini memang lebih tepat jika diperuntukkan bagi pemahaman manajerial. Namun, upaya pemahaman teori ini hendaknya juga diimbangi dengan pengembangan persepsi karyawan bahwa dengan semakin baik kinerja (semakin banyak keluaran yang diberikan pada perusahaan), akan semakin baik pula ganjaran yang diterimanya – terlepas dari apakah ganjaran itu mampu memenuhi atau memuaskan kebutuhan individu yang bersangkutan.
[1] Stephen Robbins.Perilaku Organisasi (Jakarta: P.T. Indeks Kelompok Gramedia, 2003) halaman 229.
Sunday, November 18, 2007
Monday, November 12, 2007
Penataan
Tampaknya sebuah tempat sampah tidak baik jika diisi berbagai jenis sampah. Mengingat kepentingan lingkungan jangka panjang, ada baiknya pemilahan sampah dilakukan. Begitu juga pemililahan tulisan. Tampaknya blog ini akan lebih banyak memuat tulisan seputar penulisan, psikologi, atau sosial terbatas. Foto-foto perjalanan hasil hunting dan tulisan seputar budaya dan alam tampaknya akan diletakkan di rajawalikecil.multiply.com. Sekadar memberi label lebih jelas pada situs pribadi. Selamat menikmati ^.^
sekelumit AQ
Suatu perusahaan didirikan tentunya untuk mencapai suatu target (goal). Pencapaian target itu membutuhkan upaya sinergi dari seluruh elemen perusahaan. Untuk itu dibutuhksn tenaga kerja yang dengan kesadaran penuh berkehendak berjuang bersama mencapai target tersebut.
Sayangnya tidak semua pekerja memiliki ambisi dan daya juang dalam kapasitas yang sama. Menurut Stoltz ada tiga tipe pekerja:
1. Quitters
2. Campers
3. Climbers
Quitters adalah tipe pekerja yang menyerah sebelum bertanding. Ketika melihat tingginya gunung yang harus didaki, ia berkata pada dirinya dan orang lain bahwa ia tidak akan mampu mendaki sampai ke puncak. Ia pun memilih untuk tidak mulai mencoba. Ia memilih hanya duduk di bawah.
Pekerja dengan tipe Quitters adalah pekerja yang selalu menghindari tantangan, serupa dengan pekerja tipe X pada teori McGregor. Ia selalu berupaya mencari tempat yang aman. Ia ingin memperoleh kondisi yang lebih baik, tapi ia enggan berusaha. Ia memilih untuk keluar, menghindari kewajiban, mundur, dan berhenti. Mereka menolak kesempatan yang diberikan oleh tantangan. Hidupnya akan stagnan pada tingkat terbawah.
Tipe pekerja Campers adalah tipe pekerja yang berani mencoba mengambil langkah pertama. Meskipun ragu, ia memberanikan diri untuk mulai melangkah. Ada usaha untuk maju. Di tengah pendakian, Campers menemukan tempat yang nyaman untuk beristirahat. Tempat itu rindang dan teduh. Campers kemudian memutuskan untuk tinggal lebih lama di tempat itu dan tidak pernah melanjutkan pendakiannya.
Tempat teduh yang nyaman untuk beristirahat itu diibaratkan sebagai pekerjaan yang tengah dijalani saat ini. Pada posisi ini kehidupan masih bisa dilangsungkan dan pekerja cukup puas dengan pencapaiannya. Ia tidak ingin lebih sementara pada dirinya masih terdapat banyak potensi yang dapat dikembangkan.
Tipe ketiga adalah tipe Climbers. Climbers adalah pendaki sejati. Ia tidak akan berhenti terlalu lama pada satu titik sebelum mencapai puncak. Ia akan beristirahat seperti Campers, tapi akan meninggalkan Campers untuk kembali mendaki jika dirasa waktunya tepat. Dengan upaya maksimal, Climbers akan mencapai puncak dan menikmati hasil usahanya.
Seorang Climbers adalah orang yang berani mengambil langkah pertama dan terus melanjutkan melangkah hingga tujuannya tercapai. Climbers telah menetapkan misi di awal dan bergerak menuju target tersebut. Ada kalanya ia berhenti pada satu titik atau satu posisi pekerjaan. Namun, ia akan segera mendaki kembali. Ia hanya beristirahat sejenak, menikmati pencapaian usahanya dan berjuang lagi mencapai target.
”Climbers adalah orang yang seumur hidup membaktikan diri pada pendakian tanpa menghiraukan latar belakang, keuntungan, atau kerugian, nasib buruk atau nasib baik. Climbers adalah pemikir yang selalu memikirkan kemungkinan-kemungkinan, dan tidak pernah membiarkan umur, jenis kelamin, ras, cacat fisik, atau hambatan lain menghalangi pendakiannya.” (Stoltz, 2000:20). Pekerja tipe Climbers-lah yang akan sukses meniti karir dan dapat menikmati hasil kerja kerasnya.
referensi:
Stoltz.(2000).Adversity Quotient Mengubah Hambatan Menjadi Peluang.Jakarta: Grasindo.
http://www.peaklearning.com
http://www.climbingschool.com
http://winstonbrill.comhttp://institutmahardika.com
Sayangnya tidak semua pekerja memiliki ambisi dan daya juang dalam kapasitas yang sama. Menurut Stoltz ada tiga tipe pekerja:
1. Quitters
2. Campers
3. Climbers
Quitters adalah tipe pekerja yang menyerah sebelum bertanding. Ketika melihat tingginya gunung yang harus didaki, ia berkata pada dirinya dan orang lain bahwa ia tidak akan mampu mendaki sampai ke puncak. Ia pun memilih untuk tidak mulai mencoba. Ia memilih hanya duduk di bawah.
Pekerja dengan tipe Quitters adalah pekerja yang selalu menghindari tantangan, serupa dengan pekerja tipe X pada teori McGregor. Ia selalu berupaya mencari tempat yang aman. Ia ingin memperoleh kondisi yang lebih baik, tapi ia enggan berusaha. Ia memilih untuk keluar, menghindari kewajiban, mundur, dan berhenti. Mereka menolak kesempatan yang diberikan oleh tantangan. Hidupnya akan stagnan pada tingkat terbawah.
Tipe pekerja Campers adalah tipe pekerja yang berani mencoba mengambil langkah pertama. Meskipun ragu, ia memberanikan diri untuk mulai melangkah. Ada usaha untuk maju. Di tengah pendakian, Campers menemukan tempat yang nyaman untuk beristirahat. Tempat itu rindang dan teduh. Campers kemudian memutuskan untuk tinggal lebih lama di tempat itu dan tidak pernah melanjutkan pendakiannya.
Tempat teduh yang nyaman untuk beristirahat itu diibaratkan sebagai pekerjaan yang tengah dijalani saat ini. Pada posisi ini kehidupan masih bisa dilangsungkan dan pekerja cukup puas dengan pencapaiannya. Ia tidak ingin lebih sementara pada dirinya masih terdapat banyak potensi yang dapat dikembangkan.
Tipe ketiga adalah tipe Climbers. Climbers adalah pendaki sejati. Ia tidak akan berhenti terlalu lama pada satu titik sebelum mencapai puncak. Ia akan beristirahat seperti Campers, tapi akan meninggalkan Campers untuk kembali mendaki jika dirasa waktunya tepat. Dengan upaya maksimal, Climbers akan mencapai puncak dan menikmati hasil usahanya.
Seorang Climbers adalah orang yang berani mengambil langkah pertama dan terus melanjutkan melangkah hingga tujuannya tercapai. Climbers telah menetapkan misi di awal dan bergerak menuju target tersebut. Ada kalanya ia berhenti pada satu titik atau satu posisi pekerjaan. Namun, ia akan segera mendaki kembali. Ia hanya beristirahat sejenak, menikmati pencapaian usahanya dan berjuang lagi mencapai target.
”Climbers adalah orang yang seumur hidup membaktikan diri pada pendakian tanpa menghiraukan latar belakang, keuntungan, atau kerugian, nasib buruk atau nasib baik. Climbers adalah pemikir yang selalu memikirkan kemungkinan-kemungkinan, dan tidak pernah membiarkan umur, jenis kelamin, ras, cacat fisik, atau hambatan lain menghalangi pendakiannya.” (Stoltz, 2000:20). Pekerja tipe Climbers-lah yang akan sukses meniti karir dan dapat menikmati hasil kerja kerasnya.
referensi:
Stoltz.(2000).Adversity Quotient Mengubah Hambatan Menjadi Peluang.Jakarta: Grasindo.
http://www.peaklearning.com
http://www.climbingschool.com
http://winstonbrill.comhttp://institutmahardika.com
Tuesday, October 23, 2007
Individualitas vs keadilan
Lama tidak meng-up date, seorang teman mulai mengejek hehehe...
Well, mengingat kejadian hampir sebulan yang lalu.
Setiap orang iciptakan dengan keunikan masing-masing. tidak ada rumus baku yang dapat menampung semua kebutuhan setiap orang jangankan setiap orang, setiap anggota komunitas tentu pantas untuk diperlakukan berbeda, sesuai dengan kebutuhannya. Apa lantas itu berarti ketidakadilan? Dalam kasus tertentu tentu saja tidak.
Kasus yang hendak saya bahas pada kesempatan ini lebih pada pemberian hukuman. Saya setuju dengan teori behavioral bahwa interaksi dengan lingkungan dapat membentuk suatu perilaku individu. Hukuman ataupun komentar kecil yang ditujukan pada individu oleh individu lain dapat berbeda efeknya. Sebagai contoh, peristiwa menjatuhkan barang. Individu A dapat dengan tak pedulinya melengos pergi begitu saja dan baru bersedia membereskan barang tersebut setelah seluruh ruangan memaki-maki. Individu B, hanya dengan reaksi spontan orang-orang menengok padanya setelah mendengar bunyi jatuh barang tersebut sudah merasa amat malu hingga ingin menghilang dari dunia detik itu juga.
Untuk individu tipe A tentu perlu campur tangan lingkungan untuk membantunya berperilaku sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat. Bagi individu B yang memiliki tingkat kesadaran diri (awareness) yang tinggi, ia tidak memerlukan teguran dalam bentuk apapun dari orang lain. Reaksi spontan menengok atau tersenyum tanpa kata sudah cukup menjadi peringatan baginya. Jika lingkungan bereaksi lebih dari itu, memarahinya atau bahkan menghukumnya, ia akan merasa sangat kesal karena sesungguhnya ia tidak membutuhkan peringatan keras semacam itu.
Singkatnya, ada waktunya untuk memperlakukan individu secara berbeda, sesuai dengan individualitasnya masing-masing.
Well, mengingat kejadian hampir sebulan yang lalu.
Setiap orang iciptakan dengan keunikan masing-masing. tidak ada rumus baku yang dapat menampung semua kebutuhan setiap orang jangankan setiap orang, setiap anggota komunitas tentu pantas untuk diperlakukan berbeda, sesuai dengan kebutuhannya. Apa lantas itu berarti ketidakadilan? Dalam kasus tertentu tentu saja tidak.
Kasus yang hendak saya bahas pada kesempatan ini lebih pada pemberian hukuman. Saya setuju dengan teori behavioral bahwa interaksi dengan lingkungan dapat membentuk suatu perilaku individu. Hukuman ataupun komentar kecil yang ditujukan pada individu oleh individu lain dapat berbeda efeknya. Sebagai contoh, peristiwa menjatuhkan barang. Individu A dapat dengan tak pedulinya melengos pergi begitu saja dan baru bersedia membereskan barang tersebut setelah seluruh ruangan memaki-maki. Individu B, hanya dengan reaksi spontan orang-orang menengok padanya setelah mendengar bunyi jatuh barang tersebut sudah merasa amat malu hingga ingin menghilang dari dunia detik itu juga.
Untuk individu tipe A tentu perlu campur tangan lingkungan untuk membantunya berperilaku sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat. Bagi individu B yang memiliki tingkat kesadaran diri (awareness) yang tinggi, ia tidak memerlukan teguran dalam bentuk apapun dari orang lain. Reaksi spontan menengok atau tersenyum tanpa kata sudah cukup menjadi peringatan baginya. Jika lingkungan bereaksi lebih dari itu, memarahinya atau bahkan menghukumnya, ia akan merasa sangat kesal karena sesungguhnya ia tidak membutuhkan peringatan keras semacam itu.
Singkatnya, ada waktunya untuk memperlakukan individu secara berbeda, sesuai dengan individualitasnya masing-masing.
Thursday, June 14, 2007
Menanti Arisan =p
Sehari berjaga untuk box. Hari terakhir pengembalian formulir gelombang IV. Terlalu sepi untuk ukuran kami. Belum lagi salah seorang rekan tengah dirawat di rumah sakit karena Demam berdarah. Satu-satunya penghiburan hanyalah kehadiran rekan-rekan PMB mulai dari PMB 7-9. Kebersamaan-kekeluargaan yang selalu menyenangkan! Tak sabar menanti pertemuan arisan PMB berikutnya.
Sunday, May 13, 2007
Sunday, May 6, 2007
Menjaga Mutu
Masih, bernuansa Hari Pendidikan Nasional, orang-orang sibuk meributkan mutu pendidikan di Indonesia, termasuk meributkan alokasi dana pendidikan dari APBN. Institusi pendidikan dituntut untuk begini dan begitu. Semua ini semakin memicu keresahan saya mencuat ke permukaan. Keresahan yang sudah tiga tahun terakhir ini saya rasakan dan hanya mampu saya ributkan pada teman-teman sekomunitas. Ini perihal tuntutan tersedianya sumber daya manusia yang profesional.
Melihat proses pembelajaran dan pendidikan para calon pengajar dan pendidik di segala bidang membuat saya seolah berlari dalam roda marmut. Saya yakin Anda pernah melihat marmut kecil yang berlari di dalam roda di kandangnya. Persis seperti itu yang saya rasakan.
Saya akan coba mulai dari tuntutan masyarakat terhadap ketersediaan tenaga profesional. Menyadari kebutuhan akan pendidikan yang menjadi semakin crucial, masyarakat secara langsung maupun tak langsung menuntut berdirinya berbagai fasilitas pendidikan yang bermutu lagi terjangkau. Namun, tidak mudah mencari tenaga pengajar dan pendidik yang betul-betul memenuhi kualifikasi bermutu. Pemerintah bermaksud meningkatkan kualitas tenaga pengajar dengan meningkatkan prasyarat mutlak pendidikan minimal. Untuk itu, institusi pendidikan yang telah berjalan berupaya memenuhi standar tersebut dengan memberi sarana pada para tenaga pengajarnya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang dipersyaratkan. Dampaknya ada dua. Nantilah saya uraikan lebih lanjut.
Tidak puas dengan tenaga "tua", masyarakat juga menuntut tersedianya bibit-bibit baru yang dinilai lebih modern, lebih moderat, meninggalkan cara pendidikan lama yang "kolonial banget". Sayangnya, proses pendidikan para calon pendidik ini terpaksa diinterupsi oleh para pendidik senior yang tidak mau begitu saja meninggalkan gaya mapan mereka. Memang tidak sepenuhnya. Ada kalanya mereka menuntut pula para calon pendidik ini untuk mengikuti perkembangan jaman. Hanya saja, cara mereka menuntut tidak dibarengi dengan kebebasan berekspresi dan berpendapat dalam porsi yang seimbang. Alhasil, sia-sialah upaya kreatif itu. Dan terasa belum cukup hanya memotong dan menyalakan, mereka juga tidak diberi gambaran jelas tentang rincian tuntutan itu. Hasilnya, lagi-lagi gaya kolonial itu yang ditiru para calon pendidik. Lagi-lagi masyarakat dikecewakan.
Itu baru dari segi gaya pendidikan dan pengajaran. Dari segi jumlah tenaga pendidik lain lagi masalahnya. Paradigma lama (yang sayangnya masih menjadi fenomena saat ini) masih menghantui: jadi guru = ????. Dan menempuh studi di fakultas pendidikan sama saja dengan mematikan masa depan. Padahal, untuk menjadi seorang pendidik tidak hanya dapat ditempuh melalui jalur formal: jadi guru. Menjadi orang tua juga berarti menjadi pendidik bagi anak-anak mereka. Menjadi seorang atasan berarti menjadi pendidik bagi bawahan. Menjadi rekan kerja berarti menjadi teman didik (peer tutor). Dalam segala segi kehidupan. Dan ilmu pendidikan pun praktis dapat diterapkan di berbagai apek kehidupan, di berbagai profesi. Namun, tetap saja bidang disiplin ini dipandang sebelah mata. Berlanjutnya paradigma ini tentunya mempertahankan kecilnya jumlah tenaga profesional pendidikan yang ada.
Mengapa anak muda tidak tertarik pada bidang ini? Atau, aspek apa yang sekiranya dapat menarik minat anak muda dalam bidang ini? Tenaga pengajar yang ada? (yang kolot itukah?) Sistem pendidikan yang ada? (yang berubah tiap tahun, berubah sebelum sistem berlajan stabil dan menghasilkan?) Lantas apa?
Akhirnya, mutu seperti apa yang bisa kita harapkan? Bagaimana meningkatkannya???
Melihat proses pembelajaran dan pendidikan para calon pengajar dan pendidik di segala bidang membuat saya seolah berlari dalam roda marmut. Saya yakin Anda pernah melihat marmut kecil yang berlari di dalam roda di kandangnya. Persis seperti itu yang saya rasakan.
Saya akan coba mulai dari tuntutan masyarakat terhadap ketersediaan tenaga profesional. Menyadari kebutuhan akan pendidikan yang menjadi semakin crucial, masyarakat secara langsung maupun tak langsung menuntut berdirinya berbagai fasilitas pendidikan yang bermutu lagi terjangkau. Namun, tidak mudah mencari tenaga pengajar dan pendidik yang betul-betul memenuhi kualifikasi bermutu. Pemerintah bermaksud meningkatkan kualitas tenaga pengajar dengan meningkatkan prasyarat mutlak pendidikan minimal. Untuk itu, institusi pendidikan yang telah berjalan berupaya memenuhi standar tersebut dengan memberi sarana pada para tenaga pengajarnya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang dipersyaratkan. Dampaknya ada dua. Nantilah saya uraikan lebih lanjut.
Tidak puas dengan tenaga "tua", masyarakat juga menuntut tersedianya bibit-bibit baru yang dinilai lebih modern, lebih moderat, meninggalkan cara pendidikan lama yang "kolonial banget". Sayangnya, proses pendidikan para calon pendidik ini terpaksa diinterupsi oleh para pendidik senior yang tidak mau begitu saja meninggalkan gaya mapan mereka. Memang tidak sepenuhnya. Ada kalanya mereka menuntut pula para calon pendidik ini untuk mengikuti perkembangan jaman. Hanya saja, cara mereka menuntut tidak dibarengi dengan kebebasan berekspresi dan berpendapat dalam porsi yang seimbang. Alhasil, sia-sialah upaya kreatif itu. Dan terasa belum cukup hanya memotong dan menyalakan, mereka juga tidak diberi gambaran jelas tentang rincian tuntutan itu. Hasilnya, lagi-lagi gaya kolonial itu yang ditiru para calon pendidik. Lagi-lagi masyarakat dikecewakan.
Itu baru dari segi gaya pendidikan dan pengajaran. Dari segi jumlah tenaga pendidik lain lagi masalahnya. Paradigma lama (yang sayangnya masih menjadi fenomena saat ini) masih menghantui: jadi guru = ????. Dan menempuh studi di fakultas pendidikan sama saja dengan mematikan masa depan. Padahal, untuk menjadi seorang pendidik tidak hanya dapat ditempuh melalui jalur formal: jadi guru. Menjadi orang tua juga berarti menjadi pendidik bagi anak-anak mereka. Menjadi seorang atasan berarti menjadi pendidik bagi bawahan. Menjadi rekan kerja berarti menjadi teman didik (peer tutor). Dalam segala segi kehidupan. Dan ilmu pendidikan pun praktis dapat diterapkan di berbagai apek kehidupan, di berbagai profesi. Namun, tetap saja bidang disiplin ini dipandang sebelah mata. Berlanjutnya paradigma ini tentunya mempertahankan kecilnya jumlah tenaga profesional pendidikan yang ada.
Mengapa anak muda tidak tertarik pada bidang ini? Atau, aspek apa yang sekiranya dapat menarik minat anak muda dalam bidang ini? Tenaga pengajar yang ada? (yang kolot itukah?) Sistem pendidikan yang ada? (yang berubah tiap tahun, berubah sebelum sistem berlajan stabil dan menghasilkan?) Lantas apa?
Akhirnya, mutu seperti apa yang bisa kita harapkan? Bagaimana meningkatkannya???
Subscribe to:
Posts (Atom)